Tiga Bulan Berpisah, Momen Sungkeman Penuh Haru Tutup Masa Asih Asuh Insan Gemilang BLORA – Setelah tiga bulan ditempa dalam program adaptasi intensif, Masa Asih Asuh (MAA) bagi santri baru Pondok Pesantren Insan Gemilang resmi ditutup dalam sebuah acara yang luar biasa khidmat dan emosional pada Selasa, 7 Oktober 2025. Momen ini menjadi pertemuan kembali yang pertama antara para santri dengan orang tua mereka. Acara yang diselenggarakan oleh pihak asrama ini diawali dengan Apel Penutupan yang menunjukkan hasil tempaan disiplin para santri. Dilanjutkan dengan penampilan Tari Saman yang enerjik, acara kemudian beralih ke suasana syahdu saat para santri melantunkan lagu “Bunda”. Puncak acara yang paling dinanti pun tiba, diwarnai sebuah prosesi yang sarat akan makna. Dengan tertib, para santri maju dengan berjalan jongkok (laku dodok), sebuah tradisi yang melambangkan bakti dan penghormatan tertinggi, untuk mendekati ayah dan ibu mereka. Namun, sebelum prosesi sungkem, ada satu momen yang membuat suasana semakin larut dalam keharuan. Setibanya di hadapan orang tua, setiap santri mengeluarkan selembar surat. Dengan suara bergetar menahan tangis, mereka mulai membacakan “surat cinta” yang telah mereka tulis secara pribadi. Untaian kata berisi ungkapan rindu, terima kasih atas pengorbanan, dan janji untuk belajar dengan sungguh-sungguh terdengar dari setiap sudut ruangan. Suara ratusan anak yang membacakan isi hati mereka secara bersamaan menciptakan gema emosional yang membuat banyak hadirin tak kuasa menahan air mata. Setelah menumpahkan isi hati mereka melalui tulisan, sebuah aba-aba diberikan. Secara serentak, seluruh santri kemudian bersimpuh di pangkuan orang tua masing-masing untuk melakukan sungkem. Saat itulah tangis haru benar-benar pecah di seluruh penjuru ruangan. Momen sungkeman yang didahului oleh pembacaan surat cinta ini menjadi puncak katarsis yang meluapkan segala kerinduan, kebanggaan, dan rasa syukur. Acara kemudian ditutup dengan doa syukur singkat yang dipimpin oleh salah seorang kiyai. Sebagai tindak lanjut, para santri akan dipulangkan ke rumah masing-masing selama satu minggu untuk menjalani “Praktik di Rumah”. Kepala Pembina Asrama menjelaskan, “Prosesi dari laku dodok hingga pembacaan surat cinta adalah cerminan adab dan rasa hormat yang kami tanamkan. Kini, selama satu minggu di rumah, mereka diharapkan dapat mempraktikkan langsung nilai-nilai tersebut dalam lingkungan keluarga.” Setelah menyelesaikan masa “Praktik di Rumah”, para santri akan kembali ke pondok pesantren untuk memulai kehidupan asrama secara penuh, membawa bekal restu dan semangat baru dari orang tua mereka.